Politik Tak Boleh Jadi Hantu bagi Anak Muda, Bawaslu Tabanan Dorong Generasi Muda Melek Demokrasi
|
Tabanan – Politik jangan sampai menjadi “hantu” yang ditakuti generasi muda. Justru melalui politik dan demokrasi, masyarakat memiliki ruang untuk menentukan arah pembangunan dan melahirkan pemimpin yang mampu membawa perubahan bagi daerah.
Pesan tersebut mengemuka dalam konsolidasi demokrasi yang digelar Bawaslu Kabupaten Tabanan bersama tokoh masyarakat di Puri Anom Tabanan, Rabu (19/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di tengah momentum bulan kemerdekaan Republik Indonesia ini menjadi ruang dialog untuk melihat perkembangan demokrasi sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam kehidupan politik.
Konsolidasi demokrasi tersebut dilaksanakan Anggota Bawaslu Kabupaten Tabanan, Ni Putu Ayu Winariati, didampingi Kasubbag Pengawas Pemilu dan jajaran Bawaslu Kabupaten Tabanan. Rombongan diterima langsung tokoh Puri Anom Tabanan, Anak Agung Ngurah Panji Astika, S.T.
Dalam dialog tersebut, Winariati menggali pandangan Panji Astika mengenai perkembangan demokrasi di Kabupaten Tabanan. Pengalaman Panji Astika yang pernah mencalonkan diri sebagai Bupati Tabanan menjadi salah satu perspektif penting dalam melihat dinamika politik dan demokrasi di daerah.
Winariati menilai pemahaman masyarakat terhadap politik dan demokrasi perlu terus diperkuat, terutama di kalangan generasi muda. Sebab, politik pada dasarnya bersentuhan langsung dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat.
“ Bahwa seluruh kehidupan kita diatur berdasarkan kebijakan politik. Sebagai penyelenggara, kami mempunyai program penguatan literasi demokrasi agar anak muda lebih melek tentang demokrasi,” ujar Winariati.
Menurutnya, generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proses demokrasi. Mereka harus memahami bagaimana demokrasi berjalan, bagaimana menentukan pilihan secara cerdas, serta bagaimana mengambil bagian dalam mengawal proses politik agar tetap berjalan sesuai prinsip demokrasi.
Sementara itu, Anak Agung Ngurah Panji Astika mengungkapkan bahwa dirinya selama ini aktif dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kebinekaan, pelestarian budaya, dan semangat kemerdekaan.
Ia menyoroti masih adanya anggapan di kalangan anak muda bahwa politik merupakan sesuatu yang buruk atau tidak menarik. Padahal, menurutnya, politik merupakan salah satu instrumen penting untuk melakukan perubahan dan perbaikan daerah.
“Banyak anak muda memandang politik itu sebagai sesuatu yang tidak bagus. Namun jika tidak terlibat dalam politik, maka tidak akan bisa memperbaiki daerahnya. Maka dari perspektif itu saya pernah mencalonkan diri untuk mengabdikan diri di Kabupaten Tabanan,” ungkap Panji Astika.
Ia menegaskan, kualitas pembangunan daerah tidak dapat dipisahkan dari kualitas politik dan masyarakat yang menjalankannya. Politik yang sehat diyakini akan membuka jalan bagi lahirnya kepemimpinan yang baik.
“Daerah itu akan maju jika politiknya bagus dan pemimpin yang baik terlahir dari masyarakat yang berkwalitas,” tegasnya.
Konsolidasi demokrasi tersebut menjadi bagian dari upaya Bawaslu Kabupaten Tabanan memperluas ruang partisipasi masyarakat. Bawaslu tidak hanya hadir ketika tahapan pemilu berlangsung, tetapi juga berupaya membangun kesadaran demokrasi secara berkelanjutan melalui dialog dan pendidikan politik kepada berbagai elemen masyarakat.
Di tengah momentum kemerdekaan, pesan yang dibawa menjadi semakin kuat: demokrasi tidak boleh menjadi sesuatu yang asing bagi masyarakat, terlebih bagi generasi muda. Sebab, masa depan daerah bukan hanya ditentukan oleh siapa yang terpilih menjadi pemimpin, tetapi juga oleh seberapa sadar masyarakat menggunakan hak politiknya dan mengawal jalannya demokrasi.